Rabu, 14 Agustus 2013

MENANGKAP AIR HUJAN

Banjir di musim hujan, kekeringan di musim kemarau. Begitulah masalah di banyak kota di negeri ini. Ini akibat pembangunan kota yang tak mengindahkan kelestarian lingkungan. Cara yang diyakini bisa menjaga ketersediaan sumber air adalah membuat sumur resapan dan lubang-lubang biopori.

Konsepnya adalah bagaimana semaksimal mungkin memasukkan kembali ke dalam bumi air yang jatuh dari langit alias hujan, sehingga tidak terbuang percuma.

BIOPORI
Dinamakan teknologi biopori atau mulsa vertikal karena teknologi ini mengandalkan hewan-hewan tanah seperti cacing dan rayap untuk membentuk pori-pori alami dalam tanah, dengan bantuan sampah organik, sehingga air bisa terserap dan struktur tanah diperbaiki.

Lubang biopori tidak memerlukan lahan yang luas. Untuk daerah dengan intensitas hujan tinggi dan laju peresapan air sekitar 3 liter permenit, setiap 100 meter persegi luas tanah, hanya membutuhkan sekitar 28 lubang. Karena itu, teknologi ini bisa diaplikasikan di semua jenis kawasan, termasuk kawasan yang 100% kedap air atau sama sekali tidak ada tanah terbuka. Dan jika biopori itu berada diantara pepohonan, dijamin tetumbuhan itu akan makin subur.

Membuat Sumur Biopori
  1. Gali lubang bentuk silinder, diameter 10-30 cm, kedalaman 80-100 cm (boleh kurang jika muka air tanah dangkal).
  2. Buat jarak antarlubang 50-100 cm.
  3. Isi lubang dengan sampah organik (sampah dapur, daun, rumput). Tambah terus sampah organik jika isi lubang berkurang akibat pembusukan.
  4. Perkuat mulut lubang dengan memasukkan paralon (10 cm) dan pinggir mulut lubang di semen agar tidak longsor.
  5. Tutup dengan loster atau tutup saluran WC agar tidak membahayakan anak-anak.

SUMUR RESAPAN
Yang disebut sebagai sumur resapan adalah sumur gali yang berfungsi untuk menampung, meresapkan, dan mengalirkan air hujan yang jatuh dipermukaan tanah, bangunan, juga atap rumah. Dengan denikian, bermanfaat untuk dapat menambah atau meninggikan permukaan air tanah dangkal (water table), menambah potensi air tanah, mengurangi genangan banjir, mengurangi amblesan tanah, serta mengurangi beban pencemaran air tanah.

Berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) tentang tata cara perencanaan sumur resapan air hujan untuk lahan pekarangan, persyaratan umum yang harus dipenuhi adalah sumur resapan harus berada pada lahan yang datar, tidak pada tanah berlereng, curam, atau labil. Selain itu, sumur harus dijauhkan dari tempat penimbunan sampah, septic tank (minimum lima meter diukur dari tepi) dan berjarak minimum satu meter dari fondasi bangunan.

Bentuknya boleh bundar atau persegi empat. Penggalian maksimal dua meter di bawah permukaan air tanah. Persyaratan teknis lainnya ialah kedalaman air tanah minimum 1,50 meter pada musim hujan, struktur tanah harus mempunyai permeabilitas tanah lebih besar atau sama dengan 2,0 cm/jam, dengan tiga klasifikasi. Pertama, permeabilitas tanah sedang (geluh kelanauan) 2,0-3,6 cm/jam, kedua permeabilitas tanah agak cepat (pasir halus), yaitu 3,6-36 cm/jam dan ketiga, permeabilitas tanah cepat (pasir kasar), yaitu lebih besar dari 36 cm/jam.

Spesifikasi sumur resapan meliputi penutup, dinding bagian atas dan bawah, pengisi dan saluran air hujan. Untuk penutup dapat digunakan, misalnya pelat beton bertulang tebal 10 sentimeter dicampur satu bagian semen, dua bagian pasir, dan tiga bagian kerikil. Atau beton dengan ketebalan yang sama berbentuk cubung namun tidak diberi beban diatasnya atau ferocement setebal 10 sentimeter.

Untuk dinding sumur bagian atas dan bawah dapat menggunakan besi beton. Dinding bagian atas juga dapat hanya menggunakan batu bata merah, batako, campuran satu bagian semen, empat bagian pasir, diplester dan diaci semen. Semenetara pengisi sumur dapat menggunakan batu pecah ukuran 10-20 senti meter, pecahan bata merah ukuran 5-10 sentimeter, ijuk, serta rang. Pecahkan batu tersebut disusun berongga. Untuk saluran air hujan, dapat digunakan pipa PVC berdiameter 110 milimeter, pipa beton berdiameter 200 milimeter, dan pipa beton setengah lingkaran berdiameter 200 milimeter. (dari berbagai sumber/foto:istimewa)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar